HOME

ASSALAMU’ALAIKUM! ICIH BOGOR merupakan singkatan dari Ikhwan Cihideung Bogor. Kami adalah Ikhwan Thoriqoh Qodiriyah Naqsyabandiyah (TQN) Pondok Pesantren Suryalaya yang berada di desa Cihideung (dan sekitarnya) Kecamatan Ciampea Kabupaten Bogor. (UNDER CONTRUCTIONS)

SELAYANG PANDANG 16 Januari, 2008

Filed under: Berita — icihbogor @ 7:39 am

SELAYANG PANDANG
YAYASAN SERBA BAKTI
PONDOK PESANTREN SURYALAYA
PERWAKILAN BOGOR

Yayasan Serba Bakti Pondok Pesantren Suryalaya Perwakilan Bogor (YSB-PPS-PWB) mulai aktif pada sekitar tahun 1980-an, dengan jumlah tempat pengamalan yang masih sedikit. Diawali dengan figur-figur pendahulu sampai dengan masa kepengurusan YSB.PPS.PWB dimasa Sesepuh Bogor. Let.Kol (purn) H Sumarya Soekrawinata (alm).

Pada tahun 1986 diresmikan oleh Yang Mulia Sesepuh Pondok Pesantren Suryalaya, Masjid Baitul Ikhlas yang dibangun dalam waktu 40 hari, yang kemudian kompleks Masjid yang terdiri dari Tanah, Masjid dan bangunan Inabah VIII, diwakafkan kepada Sesepuh PPS.

Periode-periode Kepengurusan YSB.PPS.PWB terlewati sudah, dan Masjid Baitul Ikhlas Bogor direnovasi kembali mulai tahun 2001 oleh para ikhwan/akhwat Bogor melalui musyawarah seperti yang tertuang dalam proposal awal, serta dilanjutkan dimasa bapak Eko Fipianto sebagai Ketua Yayasan Serba Bakti, yang sedianya Kompleks Masjid Baitul Ikhlas tersebut disiapkan sebagai Pusat Pembinaan, Informasi dan Kalibrasi pengamalan TQN PPS di wilayah Bogor.

Selain Masjid Baitul Ikhlas, ada Sekretariat YSB.PPS.PWB Jl Ciparahiang No 8 Baranang Siang Bogor yang menyatu dengan tempat kediaman bapak H Sumarya Soekrawinata (alm). Sekretariat inilah yang merupakan Pusat Pembinaan di wilayah Bogor sebelum Masjid Baitul Ikhlas direnovasi dan dimakmurkan kembali.

Pembinaan di sekretariat ini memiliki metode Pembinaan bertingkat. Dimana Pembina Mubaligh (Wakil Talqin) membina para Mubaligh/Mubaligoh dan Mubaligh/Mubaligoh tersebut melakukan pembinaan kepada ikhwan/akhwat di tempat-tempat Manaqib/Khataman di wilayah Bogor, model pembinaan tersebut dapat kita lihat pada gambar di bawah ini :

Terlihat pada gambar 1, diatas ialah sistem jaringan dengan mulai dari Pusat Sistem yakni PPS (pondok Pesantren Suryalaya) sebagai acuan pembinaan atau sumber informasi para Pembina dan Pembina membina para Mubaligh/Mubaligoh di Bogor yang kemudian para mubaligh/mubaligoh melakukan penerangan dan menyebarkan informasi kepada para pengamal di tempat-tempat Manaqib/Khataman di wilayah Bogor

Dimana Terdapat dua orang pembina yang ketika itu membina pada waktu Manaqib di Sekretariat YSB.PPS.PWB yakni KH Aang Muhaiminul Azziz (Wakil Talqin dari Cianjur) dan KH Abdul Salam Nasution SH (Wakil Talqin dari Bandung / Alm)

Keberadaan dua orang pembina ini diharapkan terutama dapat meningkatkan kemampuan Mubaligh/Mubaligoh di wilayah Perwakilan Bogor dan pada gilirannya para Mubaligh-mubaligoh dapat memberikan pembinaan yang lebih baik setelah mendapatkan pengarahan dari kedua pembina tersebut.

Materi yang disampaikan kedua pembina diatas kurang lebih merupakan materi yang juga dibahas di Suryalaya, mengingat kedua Pembina tersebut memiliki jadwal piket tiap minggu di Suryalaya yakni hari Jumat hingga senin secara bergiliran. Sehingga bila ada kebijakan Pondok Pesantren / Sesepuh yang harus segera disosialisakan kepada seluruh Pengamal, dengan keadaan pembina yang demikian menjadi mudah dan merupakan keuntungan bagi para pengamal TQN di bogor, karena menerima informasi yang valid dengan waktu tunda informasi yang relatif singkat

Model Pembinaan ini dipilih karena dianggap cukup efisien, berbobot serta dapat meneruskan pokok-pokok pembinaan dari Pusat (Suryalaya). Pembinaan secara bertingkat ini sangat membantu para pengamal di wilayah Bogor karena secara geografis cukup jauh dari Pondok Pesantren Suryalaya, dimana keadaan ekonomi para pengamal dan calon pengamal yang sebagian besar kurang memadai untuk dapat pergi ke Pondok Pesantren Suryalaya secara rutin.

Untuk pembinaan, para pembina, terutama KH Abdul Salam Nasution SH telah menyiapkan banyak materi pembinaan dalam bentuk diktat-diktat bagi para Mubaligh/Mubaligoh, yang sangat membantu dalam penyampaian pokok-pokok pembinaan amalan, sedangkan KH Aang Muhaiminul Azziz lebih menekankan Pembinaan melalui metoda riyadhah dan latihan ibadah lainnya.

Beberapa tahun metode pembinaan ini berlangsung sampai pada akhirnya kedua pembina tersebut tidak lagi melanjutkan pembinaannya karena keadaan yang sudah tidak memungkinkan (faktor usia dan kesehatan).

Selain dengan metoda diatas sebagian Mubaligh/Mubaligoh di wilayah Bogor juga diikut sertakan dalam kegiatan Penataran Mubaligh/Mubaligoh di Pondok Pesantren Suryalaya dengan tujuan penyamaan persepsi dan pemahaman tentang Pondok Pesantren Suryalaya dan Thariqat Qoodiriyah Naqsyabandiyah secara utuh menyeluruh

Untuk mengupayakan pembinaan yang berkelanjutan walaupun kedua Pembina di Bogor tersebut sudah tidak lagi memberikan pembinaan, pengurus YSB menghaturkan perkenan Sesepuh PP Suryalaya untuk dapat terus mengirimkan para Pembina dibawah beliau (Wakil Talqin) ke Bogor, Alhamdulillah berkat perkenan beliau pembinaan di Bogor terus dapat berlanjut

Secara teknis pembinaan tersebut dalam bentuk undangan kepada para Pembina untuk memberikan pembinaan di Masjid Baitul Ikhlas, hal ini dikoordinir oleh wakil ketua 1 bidang Ilmu, dakwah dan Inabah YSB.PPS.Perwakilan Bogor yang waktu itu adalah H Zaenal Saefullah Karsono

Pada Tahun 2004, atas musyawarah pengurus yayasan dan koordinasi bidang ilmu, dakwah dan inabah, pengurus yayasan menyelenggarakan penataran mubaligh/mubaligoh dengan materi “pendalaman tasawuf” sebagai pembekalan bagi pendakwah di Masjid Baitul Ikhlas yang diikuti oleh mubaligh/mubaligoh, pengurus yayasan serta ikhwan yang berminat

Pembekalan tersebut diadakan dengan mengundang para Pembina dan Pengurus Yayasan Pusat untuk memberikan pengetahuan tentang organisasi dari Suryalaya, para peserta pembekalan diwajibkan mengisi biodata sebagai persyaratan pembekalan/penataran. Kemudian biodata tersebut dikonfirmasikan ke bagian Dakwah Yayasan Serba Bakti Pusat dan Pengemban Amanah Pondok Pesantren Suryalaya.

Para Pengurus YSB.PPS.PWB melalui bidang Ilmu, Dakwah dan Inabah terus berupaya mengorganisasi pembinaan bagi para pengamal serta mereka yang berniat menjadi pengamal TQN PPS, mengingat di Bogor tidak ada Wakil Talqin untuk itu.

Jumlah Pengamal dan tempat-tempat pengamalan amalan TQN PPS makin hari kian bertambah, tercatat di pada awal tahun 2004 sebanyak 109 tempat Manaqib, karenanya Pengurus mengajak kepada para Sesepuh Manaqib/Khataman di wilayah Bogor agar dapat hadir atau mewakilkan wakilnya di Masjid Baitul Ikhlas pada waktu Manaqib, selain hadir dalam Manaqib juga untuk meneruskan Pokok-Pokok Pembinaan dari para Pembina

Para pengurus YSB.PPS.PWB itu sendiri, diupayakan agar dapat menghadiri Manaqib di Pondok Pesanten Suryalaya. Selain untuk hadir dalam Manaqib juga untuk memperoleh informasi dan hal-hal yang sekiranya penting untuk disampaikan kepada para pengamal di wilayah Bogor.

Yayasan Serba Bakti Pondok Pesantren Suryalaya dibentuk untuk menopang kegiatan Pondok Pesantren Suryalaya yang memiliki:

Visi :
Hiftuth Thariqah Qoodiriyah Naqsyabandiyah
Misi :
Pendidikan, Dakwah, Sosial

Hal di atas merupakan acuan bagi pengurus Yayasan dalam membuat kebijakan dan penerapannya di lapangan. Harapan Pengurus YSB-PPS-PWB adalah bahwa para pengamal TQN PPS diwilayah Bogor terjaga pengamalannya, sesuai dengan Ketentuan yang telah ditetapkan oleh Yang Mulia Syaikh Mursyid, serta dapat mengaplikasikan Tanbih dan Untaian Mutiara dalam kehidupan sehari-hari.

Mudah mudahan tulisan ini dapat bermanfaat bagi para pembaca, terutama bagi para pengurus Yayasan Serba Bakti ditempat lainnya sebagai bahan perbandingan (Benchmarking).

Akhir kata kami mengucapkan terima kasih dan kurang lebihnya kami mohon maaf.

Bogor, 13 Oktober 2004

Rahmat Artiawan

 

Membaca Kisah Abah Anom 13 Desember, 2007

Filed under: Amaliah Ilmiah — icihbogor @ 4:35 am

engan membaca kisah hidup Guru Mursyid kita, Pangersa Abah Anom, mudah-mudahan bisa menambah kecintaan Ikhwan kepada Beliau. Amiin. Tulisan di bawah ini bisa dibaca di : muslimdelft.nl atau kisah.web.id. Kurang afdhol rasanya kalau kita juga ngga baca dari website Suryalaya.

Suryalaya, 26 tahun lalu. Sekelompok pemuda yang amat lemah daya nalarnya, sulit mengerti pembicaraan orang atau ‘telat mikir’. Mereka juga tak punya ingatan yang baik, hanya mampu mengingat selama lima menit kemudian lupa begitu saja, setelah sebelumnya diajarkan huruf-huruf hijaiyah secara intensif.

Mereka adalah korban narkotika. Orang tuanya yang di ambang putus asa, menitipkan mereka secara khusus kepada seorang kiai berusia 58 tahun, yang tetap disebut ‘Kiai Muda’ atau dalam bahasa masyarakat setempat dikenal sebagai ‘Abah Anom’, pengasuh Pesantren Suryalaya.

Beberapa bulan kemudian, setelah mengikuti ritual ala Thariqat Qadiryyah Naqsabandiyyah, mereka tampak normal kembali. Bahkan kemudian mampu hidup mandiri, dengan mendapat pekerjaan yang layak.

Sejak itu berbondong-bondong remaja semodel dengan pendahulunya dititipkan oleh orang tua mereka. Karena tak mungkin menggabungkan mereka dengan para santri yang normal, maka dibuatlah satu pesantren khusus remaja narkoba, Pesantren Inabah namanya.

Di mata Abah, makanan tak halal adalah salah satu sebab hancurnya generasi muda. “Karena barang yang haram kalau dimakan akan membawa dampak negatif, disamping menggelapkan hati,” tegasnya kepada Republika, tiga tahun lalu.

Enam tahun kemudian (1978-1979), Pesantren Inabah berhasil menyelamatkan dua pertiga penghuninya, yang umumnya adalah anak-anak orang ‘berpangkat’. Mulai dari ABRI, pegawai negeri sipil, pengusaha bahkan dari golongan alim ulama. Yang umumnya berasal dari Jakarta.

Sejak itu nama Pesantren Inabah, naik daun sampai sekarang. Setahun kemudian (1980), diadakan lokakarya di pesantren itu yang dihadiri oleh 8 departemen sekaligus. Yang tergabung dalam kerjasama lintas sektoral, yang dibuat khusus untuk menanggulangi kenakalan remaja.

Pesantren Inabah, menjadi fenomena tak hanya di Indonesia bahkan meluas sampai mancanegara. Tapi, siapa Abah Anom, dan apa itu Inabah?

Sufi yang utuh

Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin adalah nama asli Abah Anom. Lahir 1 Januari 1915 di Suryalaya, Tasikmalaya. Ia anak kelima dari Syekh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad, atau Abah Sepuh, pendiri Pesantren Suryalaya. Sebuah pesantren tasawuf yang khusus mengajarkan Thariqat Qadiriyyah Naqsabandiyah (TQN).

Ia memasuki bangku sekolah dasar (Vervooleg school) di Ciamis, pada usia 8 tahun. Lima tahun kemudian melanjutkan ke madrasah tsanawiyah di kota yang sama. Usai tsanawiyah, barulah ia belajar ilmu agama Islam, secara lebih khusus di berbagai pesantren.

Ia keluar masuk berbagai macam pesantren yang ada di sekitar Jawa Barat seperti, Pesantren Cicariang dan Pesantren Jambudwipa di Cianjur untuk ilmu-ilmu alat dan ushuluddin. Sedangkan di Pesantren Cireungas, ia juga belajar ilmu silat. Minatnya untuk belajar silat diperdalam ke Pesantren Citengah yang dipimpin oleh Haji Djunaedi yang terkenal ahli “alat”, jago silat dan ahli hikmat.

Kegemarannya menuntut ilmu, menyebabkan Abah Anom menguasai berbagai macam ilmu keislaman pada usia relatif muda (18 tahun). Didukung dengan ketertarikannya pada dunia pesantren, telah mendorong ayahnya yang dedengkot Thoriqot Qadiriyah Naqsabandiyah (TQN) untuk mengajarinya dzikir TQN. Sehingga ia menjadi wakil talqin ayahnya pada usia relatif muda.

Mungkin sejak itulah, ia lebih di kenal dengan sebutan Abah Anom. Ia resmi menjadi mursyid (pembimbing) TQN di Pesantren tasawuf itu sejak tahun 1950. Sebuah masa yang rawan dengan berbagai kekerasan bersenjata antar berbagai kelompok yang ada di masyarakat, terutama antara DI/TII melawan TNI.

“Tasawuf tidak hanya produk asli Islam, tapi ia telah berhasil mengembalikan umat Islam kepada keaslian agamanya pada kurun-kurun tertentu,” tegas Abah Anom, tentang eksistensi tasawuf dalam ajaran Islam.

Tasawuf yang dipahami Abah Anom, bukanlah kebanyakan tasawuf yang cenderung mengabaikan syari’ah karena mengutamakan dhauq (rasa). Menurutnya, sufi dan pengamal tarekat tidak boleh meninggalkan ilmu syari’ah atau ilmu fiqih. Bahkan, menurutnya lagi, ilmu syari’ah adalah jalan menuju ma’rifat.

Ia, sebagaimana lazimnya sosok sufi, tak ingin terkenal. “Ia amat sulit untuk diwawancarai wartawan, karena beliau tak ingin dikenal orang,” ungkap Ustadz Wahfiudin, mubaligh Jakarta yang menjadi salah seorang muridnya.

Kendati demikian, ia bukanlah sosok sufi yang lari ke hutan-hutan dan gunung-gunung, seperti legenda sufi yang sering mampir ke telinga kita. Yang hidup untuk dirinya sendiri, dan menuding masyarakat sebagai musuh yang menghalangi dirinya dari Allah swt. Ia akrab dengan berbagai medan kehidupan, mulai dari pertanian sampai pertempuran.

Pada tahun 50-60-an kondisi perekonomian rakyat amat mengkhawatirkan. Abah Anom turun sebagai pelopor pemberdayaan ekonomi umat. Ia aktif membangun irigasi untuk mengatur pertanian, juga pembangunan kincir angin untuk pembangkit tenaga listrik.

Bahkan Abah Anom membuat semacam program swasembada beras di kalangan masyarakat Jawa Barat untuk mengantisipasi krisis pangan. Aktivitas ini telah memaksa Menteri Kesejahteraan Rakyat Suprayogi dan Jendral A. H. Nasution untuk berkunjung dan meninjau aktifitas itu di Pesantren Suryalaya.

Medan pertempuran bukanlah wilayah asing bagi Abah Anom. Pada masa-masa perang kemerdekaan, bersama Brig. Jend. Akil bahu-membahu memulihkan keamanan dan ketertiban di wilayahnya. Ketika pemberontakan PKI meletus (1965), ia bersama para santrinya melakukan perlawanan bersenjata.

Bahkan tidak hanya sampai di situ, Abah Anom membuat program “rehabilitasi ruhani” bagi para mantan PKI. Tak heran, jika Abah mendapat berbagai penghargaan dari Jawatan Rohani Islam Kodam VI Siliwangi, Gubernur Jawa Barat dan instansi lainnya.

Medan pendidikan juga tak luput dari ruang aktivitasnya. Mulai dari pendirian Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah ‘Aliyah pada tahun 1977, sampai pendirian Institut Agama Islam Latifah Mubarokiyah pada tahun 1986.

Kiprahnya yang utuh di berbagai bidang kehidupan manusia, ternyata berawal dari pemahamannya tentang makna zuhud. Jika kebanyakan kaum sufi berpendapat zuhud adalah meninggalkan dunia, yang berdampak pada kemunduran umat Islam. Maka menurut pendapat Abah Anom, “Zuhud adalah qasr al-’amal artinya, pendek angan-angan, tidak banyak mengkhayal dan bersikap realistis. Jadi zuhud bukan berarti makan ala kadarnya dan berpakaian compang camping.

Abah merujuk pada surat An-Nur ayat 37 yaitu, “Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah dan dari mendirikan shalat, (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati menjadi guncang.”

Jadi, menurut beliau seorang yang zuhud adalah orang yang mampu mengendalikan harta kekayaannya untuk menjadi pelayannya, sedangkan ia sendiri dapat berkhidmat kepada Allah swt semata. Atau seperti dikatakan Syekh Abdul Qadir Jailani, “Dudukkanlah dirimu bersama kehidupan duniawi, sedangkan kalbumu bersama kehidupan akhirat, dan rasamu bersama Rabbmu.”

Inabah

Mengentaskan manusia dari limbah kenistaan bukanlah perkara mudah. Abah Anom memiliki landasan teoritis yang kuat untuk merumuskan metode penyembuhan ruhani, semuanya ada dalam nama pesantren itu sendiri yaitu, Inabah.

Abah Anom menjadikan Inabah tidak hanya sekedar nama bagi pesantrennya, tapi lebih dari itu, ia adalah landasan teoritis untuk membebaskan pasien dari gangguan kejiwaan karena ketergantungan terhadap obat-obat terlarang. Dalam kacamata tasawuf, ia adalah nama sebuah peringkat ruhani (maqam), yang harus dilalui seorang sufi dalam perjalanan ruhani menuju Allah swt.

“..Salah satu hasil dari muraqabatullah adalah al-inabah yang maknanya kembali dari maksiat menuju kepada ketaatan kepada Allah swt. karena merasa malu ‘melihat’ Allah,” jelas Abah yang merujuk pada kitab Taharat Al-Qulub.

Dalam teori inabah, untuk menancapkan iman dalam qalbu, tak ada cara lain kecuali dengan dzikir laa ilaha ilallah, cara ini di kalangan TQN disebut talqin. Demikian juga dalam mesikapi mereka yang dirawat di pesantren Inabah. Mereka harus diberikan ‘pedang’ untuk menghalau musuh-musuh di dalam hati mereka, pedang itu adalah dzikrullah.

Orang-orang yang dirawat di Inabah diperlakukan seperti orang yang terkena penyakit hati, yang terjebak dalam kesulitan, kebingungan dan kesedihan. Mereka telah dilalaikan dan disesatkan setan sehingga tak mampu lagi berdzikir pada-Nya. Ibarat orang yang tak memiliki senjata lagi menghadapi musuh-musuhnya. Walhasil, obat untuk mereka adalah
dzikir.

Shalat adalah salah satu bentuk dzikir. Menurut pandangan Abah Anom, para pasien itu belum dapat shalat karena masih dalam keadaan mabuk (sukara), karena itu langkah awalnya adalah menyadarkan mereka dari keadaan mabuk dengan mandi junub. Apalagi sifat pemabuk adalah ghadab (pemarah), yang merupakan perbuatan syaithan yang terbuat dari api. Obatnya tiada lain kecuali air.

Jadi, selain dzikir dan shalat, untuk menyembuhkan para pasien itu digunakan metode wudlu dan mandi junub. Perpaduan kedua metode itu sampai kini tetap digunakan Abah Anom untuk mengobati para pasiennya dari yang paling ringan sampai yang paling berat, dan cukup berhasil. Buktinya, cabang Inabah tak hanya di Indonesia, di Singapura langsung berdiri sebuah cabang serta Malaysia dua buah cabang. Belum lagi tamu-tamu yang mengalir dari berbagai benua seperti Afrika, Eropa dan Amerika.

 

Sesepuh Ikhwan, Meninggal Dunia 9 Desember, 2007

Filed under: Barokah Fatihah — icihbogor @ 12:24 am

Telah berpulang ke Rahmatullah pada hari Jum’at, 9 Desember 2005:

KH. OMAN ABDURRAHMAN
(Sesepuh Ikhwan Cihideung)

Ikhwan TQN Pondok Pesantren Suryalaya di desa Cihideung khususnya turut berduka cita dan mendo’akan semoga Iman, Islam, Ihsan serta amal ibadah almarhum diterima oleh Allah Swt. Amin. Kepada keluarga yang ditinggalkan, semoga Allah SWT. memberikan kesabaran dan kekuatan lahir bathin dalam menerima musibah ini.

Kepada para ikhwan TQN Pondok Pesantren Suryalaya di mana saja berada, mohon do’anya untuk almarhum semoga diampuni segala dosa, kesalahan dan kekhilafannya. Bilbarokati Ummul Qur’an al-Fatihah…..

Kepada pengurus pondok pesantren Suryalaya mohon bantuannya untuk menuliskan nama di atas dalam daftar Barokah Fatihah Sholat Ghoib pada hari Jum’at di Mesjid Nurul Asror Pondok Pesantren Suryalaya. Terima kasih atas perhatian dan kerjasamanya. (@dmin)

 

Ziarah Ke Suryalaya 17 November, 2007

Filed under: Berita — icihbogor @ 2:00 pm

Seorang Ikhwan Cihideung tengah sowan kepada Pangersa Abah Anom di MadrasahAlhamdulillah, sekitar pukul 13.30 wib. kami tiba di pondok Pesantren Suryalaya. Beruntung sekali, Pangersa Abah Anom langsung menerima kami di Madrasah. Biasanya, pada jam-jam tersebut Pangersa Abah Anom sedang beristirahat. Sebelumnya, kami melaksanakan shalat Dzuhur di Nagrek. Sambil melepas lelah, Ikhwan dan Akhwat yang berjumlah kurang lebih 70 orang ini, antri mengambil makan siang yang disediakan oleh pesantren. Usai menikmati makan siang, sambil beristirahat melepas lelas, kami duduk-duduk di serambi mesjid sambil menunggu shalat Ashar.

“Allahu Akbar, Allahu Akbar….”. Suara adzan bergema di menara mesjid Nurul Asror. Kamipun bersegera mengambil air wudhu. Setelah melaksanakan shalat Ashar dan dzikir, hampir semua Ikhwan mengikuti kembali talqin dzikir yang di berikan oleh KH. R. Abdullah Syarif atau yang sering dipanggil Akeh. “Kurang afdol, kalau ke Suryalaya tidak ditalqin”, kata Ismail salah seorang peserta ziarah asal kampung Pasar Rebo. Bertemu dengan Pangersa Abah…, sudah, makan,… sudah, shalat, dzikir dan talqin,…sudah juga. Tinggal satu lagi acara Ziarah ke Makam Abah Sepuh. Ziarah di makam ini di pimpin oleh ustadz Asep, S.Pd., putera H. Oman Abdurahman (Alm., Sesepuh Ikhwan di Cihideung). Sebelum meninggalkan Suryalaya, kami berfoto-foto sebagai kenangan. Mudah-mudahan tahun depan kami masih diberi umur panjang dan kesehatan serta kelapangan rezeki sehingga dapat kembali berziarah ke Suryalaya menemui Guru Mursyid kami, Pangersa Abah Anom. Semoga Beliau dipanjangkan usianya, disehatkan selalu serta karomah serta barokahnya senantiasa tercurah kepada kami. Amiin ya robbal ‘alamiin. (J@NG)